New York, sinarlampung.co – Imam Shamsi Ali selaku Imam Besar New York mengatakan, ibadah dikatakan berhasil bukan benar atau tidaknya menurut figih namun ada dua hal yang paling penting yaitu mindset tentang Islam dan tazkiyaun nafs. Hal ini ia katakan pada acara Kajian Antar Benua-Menang Dunia Akhirat Sesi 4 dengan tema “Makna dan Hikmah Ramadan” yang diadakan oleh Komunitas Moslem Millionare secara daring. Sabtu, 8 Maret 2025.
Imam Shamsi Ali melanjutkan, mindset tentang lslam dan ibadah, ini krusial dan penting. Mindset salah tentang lslam maka akan salah dalam memahami lslam. Apakah mengimani sebagian dan mengikari sebagian lainya?
Juga bisa mengakibatkan ibadah berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan segala sesuatu. Split personality atau kepribadian terbelah/ganda, artinya taat saat Ramadan dan setelahnya tidak taat, ujar Imam Shamsi Ali.
“Ramadan secara umum terus menerus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari karena esensinya menahan hawa nafsu yang memperbudak kita”, tegas Ketua Dewan Pembina Federasi Muslim Asean Amerika.
Selanjutnya, Imam Shamsi menambahkan, tazkiyaun nafs atau verification of soul, artinya mensucikan jiwa dan fikiran dari hal yang tidak baik. Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya.
Pada kesempatan ini, Imam Shamsi Ali memaparkan tentang takwa dan bagaimana mencapainya.
“Tujuan tertinggi puasa Ramadan adalah takwa, hal ini bisa kita capai dengan transformasi kehidupan secara total. Ada enam hal yang bisa kita lakukan”, kata Pimpinan Pesantren Perdana Madani Foundation New York.
Pertama, transformasi hati yaitu penguatan keaiman dengan sunguh-sunguh bahwa apa yang kita imani benar adanya. Maka, kebersamaan dengan Allah swt bisa menghadapi cobaan dengan kuat, imbuh Imam Shamsi Ali.
Masih menurut Imam Shamsi Ali, kedua, mindset tentang kehidupan. Tujuan hidup dan puasa Ramadan untuk mencari ridho Allah swt. Ketiga, transformasi insaniyah atau kemanusian. Pada dasarnya manusia itu bersih dan suci dalam perjalanan hidupnya terkontaminasi. Bentuknya manusia namun prilakunya tidak manusiawi.
“Keempat, transformasi karakter atau ahlak, ini merupakan esensi keberagamaan. Ahlak saat di dunia dengan memiliki sifat jujur, berfikir dan berkata baik, dan lainnya. Sedangkan di akhirat akan mendapatkan surga”, imbuh Dewan Penasehat Organisasi Lintas Agama New York.
Tak hanya itu, lmam Shamsi Ali membeberkan yang kelima, transformasi keluarga, dengan merajutnya saat Ramadan bersama keluarga. Jangan bicara tentang negara dan urusan besar lainnya jika keluarga berantakan karena pondasi bernegara adalah keluarga, tegasnya lagi.
Terakhir, keenam, lanjut Imam shamsi Ali, transformasi komunitas atau umat, baik umat lokal, nasional, dan global dengan menjaga persatuan dan kesatuan. Kelemahan umat lslam, tidak percaya diri untuk mengelola sumber daya alam yang kaya. Kelemahan lainnya, tidak adanya persatuan.
Pada sesi ini, Arsiya Heni Puspita dengan nama pena Arsiya Oganara dari Bandar Lampung menanyakan situasi dan kondisi umat lslam dari berbagai negara dan berbagai macam mazhab di New York.
Menurut Imam Shamsi Ali, komunitas muslim di New York baik dan berkembang secaraa kwalitas dan kwantitas. Pada Juni ini ada pemilihan Walikota New York dan pemuda lslam umur 30 tahun mencalonkan diri, ucapnya.
“Departemen Kepolisian New York memiliki 2500 anggota beragama lslam, akan mengadakan acara buka puasa bersama pada 19 Maret 2025. Juga Jamaica Interfaith Iftar acara buka puasa bersama lintas agama akan diadakan, tambah Pembicara di PBB.
“Kita bukan orang asing tetapi bagian dari kota dan negara dan bertanggungjawab untuk menjadikannya lebih baik,” beber Imam Shamsi Ali.
Pertanyaan lainnya dari Mega Novita Sari dari Bukittinggi menanyakan tentang transformasi umat. Imam Shamsi ali menjawab, ulama dan umaro’ punya tanggung jawab besar untuk membenahi yang kurang pada umat ini.
Diketahui, M Siddiq selaku moderator yang mengatur lalu lintas lancarnya acara. Pada acara daring ini dihadiri sekitar 300 orang dari seluruh lndonesia. (Heny)