Kota Bandar Lampung sebagai pusat kegiatan ekonomi dan administrasi di Provinsi Lampung, terus mengalami permasalahan banjir yang semakin parah setiap tahunnya. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap bencana ini adalah kondisi drainase yang rusak dan dipenuhi sedimen, sehingga menghambat aliran air dan menyebabkan genangan yang meluas.
Sistem drainase yang seharusnya berfungsi untuk mengalirkan air hujan ke sungai atau tempat penampungan mengalami penyumbatan akibat sedimentasi yang berasal dari erosi tanah, material konstruksi, dan sampah yang menumpuk.
Drainase yang rusak dengan kondisi fisik yang buruk, seperti retakan, amblesan, dan penyempitan saluran, semakin memperburuk situasi karena tidak mampu menampung debit air yang meningkat saat hujan deras. Akibatnya, air meluap ke jalan-jalan, kawasan permukiman, dan pusat perbelanjaan, mengakibatkan kerugian ekonomi dan gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Selain faktor teknis, kurangnya perawatan dan manajemen drainase yang baik menjadi penyebab utama masalah ini terus berulang. Banyak drainase yang tidak dibersihkan secara rutin, sehingga endapan lumpur, pasir, dan sampah menumpuk dan memperkecil kapasitas tampung saluran air. Ditambah lagi, pembangunan yang tidak terkendali di wilayah perkotaan menyebabkan banyak drainase tertutup atau bahkan hilang akibat alih fungsi lahan.
Perubahan tata guna lahan yang tidak memperhatikan sistem drainase perkotaan semakin memperparah kondisi, di mana banyak kawasan resapan air yang seharusnya membantu meredam limpasan air hujan kini berubah menjadi permukiman padat dan jalanan beraspal yang tidak memiliki sistem pembuangan air yang memadai. Ketidakseimbangan ini menciptakan kondisi di mana air hujan yang seharusnya terserap ke dalam tanah justru langsung mengalir ke permukaan dengan volume yang besar, meningkatkan risiko banjir dalam waktu singkat.
Dampak dari buruknya sistem drainase dan sedimentasi yang terjadi di Bandar Lampung sangat signifikan, baik secara ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Dari sisi ekonomi, banjir yang terus terjadi merusak infrastruktur jalan, fasilitas umum, dan properti milik masyarakat, menyebabkan kerugian finansial yang tidak sedikit. Banyak usaha kecil yang terdampak akibat akses yang terputus atau barang dagangan yang rusak akibat banjir.
Dari sisi sosial, masyarakat harus menghadapi ketidaknyamanan akibat air yang menggenang selama berhari-hari, menyebabkan terganggunya aktivitas harian, termasuk pekerjaan dan pendidikan. Sementara itu, dari sisi kesehatan, genangan air yang tercemar oleh limbah rumah tangga dan sampah menjadi tempat berkembang biaknya berbagai penyakit seperti demam berdarah, diare, dan infeksi kulit. Hal ini semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan beban kesehatan yang harus ditanggung pemerintah daerah.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Salah satu langkah utama yang harus dilakukan adalah revitalisasi dan rehabilitasi sistem drainase perkotaan secara menyeluruh. Pemerintah Kota Bandar Lampung harus melakukan normalisasi saluran drainase dengan membersihkan sedimen dan sampah secara rutin, serta memperlebar atau memperdalam saluran yang mengalami penyempitan.
Penerapan teknologi modern seperti sumur resapan dan bioretensi dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya tampung air dan mengurangi limpasan permukaan. Selain itu, perlu adanya pengembangan sistem drainase berbasis ekologi, seperti penggunaan saluran drainase dengan konsep biofiltrasi yang mampu menyaring sedimen dan polutan sebelum air dialirkan ke sungai atau laut.
Selain perbaikan fisik drainase, pengelolaan sedimentasi juga menjadi langkah krusial dalam mengurangi risiko banjir. Program konservasi tanah dan air perlu diterapkan di daerah hulu untuk mengurangi erosi yang menjadi sumber utama sedimentasi di drainase kota.
Penanaman vegetasi di daerah tangkapan air, penerapan teknik terasering di lahan miring, serta pembuatan embung atau kolam retensi dapat membantu menahan sedimen sebelum masuk ke sistem drainase. Pemerintah juga perlu mengawasi proyek konstruksi di perkotaan agar menerapkan sistem pengelolaan limbah konstruksi yang baik, sehingga tidak menambah beban sedimentasi di saluran air.
Partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan fungsi drainase juga sangat penting. Kampanye edukasi mengenai pentingnya tidak membuang sampah ke selokan atau sungai perlu digalakkan, baik melalui media massa, sekolah, maupun komunitas lingkungan.
Program gotong royong membersihkan drainase secara berkala juga bisa menjadi langkah efektif untuk memastikan saluran air tetap bersih dan berfungsi dengan baik. Pemerintah bisa menerapkan kebijakan insentif dan sanksi bagi warga yang turut serta atau justru lalai dalam menjaga kebersihan drainase di lingkungan mereka.
Di sisi regulasi, pemerintah perlu memperketat aturan tata ruang dan pengelolaan infrastruktur perkotaan. Setiap pembangunan baru harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sistem drainase yang sudah ada dan diwajibkan untuk menyediakan infrastruktur pengelolaan air hujan seperti sumur resapan dan drainase ramah lingkungan.
Selain itu, penerapan sistem peringatan dini berbasis teknologi untuk mendeteksi potensi banjir dan memonitor kondisi drainase secara real-time dapat menjadi solusi inovatif yang membantu pengambilan keputusan cepat dalam menghadapi bencana banjir.
Secara keseluruhan, permasalahan drainase yang rusak dan sedimentasi yang berlebihan di Kota Bandar Lampung memerlukan solusi yang terintegrasi antara perbaikan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Jika langkah-langkah ini dapat diterapkan dengan baik, maka risiko banjir yang selama ini menjadi ancaman bagi masyarakat dapat diminimalisir. Kota Bandar Lampung bisa menjadi contoh dalam penerapan pengelolaan drainase yang lebih modern dan berkelanjutan, sehingga menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih aman dan nyaman bagi warganya.