Bandar Lampung, sinarlampung.co – Badan Pengurus Pusat (BPP) Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) akan menggelar rangkaian acara internasional di Bali pada pekan depan, yakni World Public Relations Forum (WPRF), Konvensi Humas Indonesia (KHI), dan Musyawarah Nasional (Munas).
Kegiatan ini merupakan momen bersejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah forum hubungan masyarakat berskala global. Acara ini digagas oleh Global Alliance bekerja sama dengan Perhumas Indonesia.
Ketua Perhumas Muda Lampung, M. Alkautsar, menyebutkan bahwa WPRF adalah kesempatan emas bagi para praktisi PR untuk memperluas wawasan, terutama terkait isu komunikasi di era digital.
“Isu-isu kedaerahan dari berbagai penjuru Tanah Air akan menyuguhkan perspektif baru tentang perkembangan komunikasi di era digitalisasi. Pertanyaannya, apakah digitalisasi ini juga mempengaruhi gaya komunikasi lokal atau tidak?” mengungkapkannya.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi Provinsi Lampung dalam melestarikan bahasa daerah di tengah arus yang mengganggu komunikasi. “Lampung memiliki aksara dan bahasa daerah tersendiri. Namun, menjaga keberadaannya tidaklah mudah, terutama di tengah perubahan komunikasi yang berkembang pesat,” ujar Alkautsar.
Sebagai strategi wilayah yang menjadi pintu gerbang Sumatra, Alkautsar menilai Lampung memiliki peluang besar untuk memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai daya tarik. “Lampung harus bisa memaksimalkan potensi bahasa dan budaya daerahnya agar menjadi nilai tambah bagi pengunjung yang melintas atau singgah di sini,” tambahnya.
Selain itu, ia menggarisbawahi risiko kesalahpahaman dalam komunikasi digital yang melibatkan bahasa daerah. “Ada istilah dalam bahasa daerah tertentu yang mungkin mempunyai arti baik, tetapi dianggap tidak pantas di daerah lain. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan potensi konflik hukum, seperti kasus perbuatan yang tidak menyenangkan,” jelasnya.
Forum Dinamis untuk Kolaborasi Global
Ketua Umum Perhumas Indonesia, Boy Kelana Soebroto, menekankan bahwa WPRF di Bali akan menjadi ajang kolaborasi bagi para profesional, akademisi, dan pemimpin industri.
“Kami berharap Ibu Menteri Komunikasi dan Digital dapat berbagi wawasan tentang perkembangan teknologi digital yang mempengaruhi lanskap komunikasi masyarakat. Kehadiran beliau juga diharapkan dapat menyoroti peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat, transparan, dan berimbang,” ujar Boy.
Ia menambahkan bahwa forum ini juga menjadi peluang untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat. “Kami ingin Indonesia menunjukkan komitmen untuk membangun ekosistem komunikasi global yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sorotan Utama dan Pembicara Internasional
WPRF 2024 akan menghadirkan pidato utama, panel diskusi, dan lokakarya, serta penghargaan bergengsi Global PR and Communications Awards .
Tokoh global seperti Justin Green, Presiden Global Alliance, akan membahas peran PR dalam membangun kepercayaan di tengah tantangan disinformasi global. Anne Gregory, Profesor PR dari Inggris, akan menyoroti etika dan profesionalisme dalam praktik PR.
Paul Holmes, pendiri The Holmes Report , dijadwalkan membahas tren terbaru dalam industri PR, sementara Mary Beth West akan mengupas strategi komunikasi krisis di era digital. Kehadiran mereka diharapkan memberikan wawasan baru dan memperkaya pengalaman peserta.
Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki peluang strategi untuk menonjolkan keinginannya dalam membangun ekosistem komunikasi global. WPRF 2024 menjadi penting untuk memanfaatkan momentum ini dan memperluas kolaborasi internasional. (*)