Lampung Timur (SL)-Sate Kambing menjadi salah satu kuliner yang tak boleh terewatkan dan ada hampir tiap daerah, terutama bagi pecinta kuliner sate. Salah satunya warung Sate Mbak Ulin, merupakan kuliner dengan bahan utama berupa daging kambing, yang ada di pedalaman Lampung Timur. Tepatnya di Desa Putra Aji 1, Pasar Jembat Batu, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur.
Ciri khas yang paling unik dari Sate Ulin ini, dari rasa dan kualitas daging. Sekilas tak ada beda antara Warung Sate Mba Ulin merek Sate Ulin dengan tempat makan dengan menu sejenis yang ada di sepanjang Jalan Simpang Pakuan Aji-Jalan Simpang Pasar Merandung-Pugung.
“Puluhan tahun jalan ini belum pernah mulus. Sudah berulang kali ganti kepala daerah, Tetap saja ga dibangun-bangun. Mendingan sekarang sudah lapen. Kami berharap bisa dibagusin,” kata warga kepada sinarlampung.co.
Kebali ke sate Ulin, sedikit berbeda dengan warung sate lainnya, adalah pada irisan dan kualitas daging. Maka tak heran, warungnya memiliki pelanggan tetap. Meski buka sore hari, dan pukul 21.00 sudah tutup, karena memang menyediakan stok terbatas. Tak jarang banyak pelanggan yang tidak kebagian dan harus menunggu besok. Tidak sedikit pelanggan juga harus boking lebih awal.
“Kebanyakan yang telpon pesan dari sore, atau sehari sebelumnya. Kita juga memang belum bisa jual banyak. Sementara ini yang masih berjalan sudah bersukur untuk bertahan hidup mas. Belum bisa besar seperti restoran restoran. Meski dekat pasar, tapi pembeli juga terbatas. Apalagi kalo hujan, sepi mas,” kata Ulin, saat sinarlampung.co, singgah di warung Sate Ulin, Jum’at 27 Januari 2022 malam.
Harga sate Mba Ulin diwarungnya ini hanya dibanderol Rp20 ribu per 10 tusuk atau perporsi. Mba Ulin juga menyiapkan sajian lainnya, Gule yang memang khas pasangan kuliner sate, “Tidak sampai lama jualannya mas. Selain memang jalurnya sepi, pembelinya masih seputar warga Putra Aji, dan Pakuan Aji, dan Desa sekitar. Pasar juga tidak tiap hari, ada musim pasaran,” kata Ulin.
Warung Sate Ulin, memang berlokasi di pedalaman Lampung Timur, ujung Kecamatan Sukadana, berbatasan dengan Kecamatan Jepara. Dari jalan Lintas Pantai Timur Samatera, melintasi Simpang Pakuan Aji, kemudian menempuh jarak seitar 10-15 kg, sampai Desa Jembat Batu.
Dari keteranganna, Mba Ulin berjualan sate secara otodidak dan terus bertaham untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya. “Belum bisa banyak. Sehari hanya sekitar dua sampai tiga kilo daging saja. Kecuali jika ada pesanan. Karena kita juga melayani pesanan saat ada keluarga-keluarga yang bikin acara,” kata Ulin didampingi suaminya.
Sate Kambing adalah menu andalan dari Warung Sate Mba Ulin. Bisa dibilang, ini adalah inovasi yang sukses dilakukan Ulin, sang pendiri. Dia berhasil memadukan kemantapan rasa Sate, meski belajar sendiri. “Awalnya cuma saat bikin acara kumpul-kumpul temen-temen, trus menunya sate. SEmua pada bilang enak nieh. Nah terinsipirasi jualan,” katanya.
Dulu jualan yang seadanya, kedai dari Bambu. Stok daging ditaro di termos, dikasi es. “Dulu tidak kulkas, apalgi frezer. Kalo tidak laku yang basi. Sekarang lahamdulillah, setelah puluhan tahun bisa punya kulkas. Dan tempat sendiri, meski juga masih harus nyicil bank,” ujarnta.
Didaerah Jembat Batu, Warung Satu Ulin, masih menjadi pioner dengan inovasi olahan kambing. Usaha kuliner keluarga ini digeluti Ulin, tahun 2013 lalu. Saat dirinya memutuskan untuk pulang kampung dari kepergian sejak 2005 di Pekan Baru. Sebelumnya Ulin juga memang kerap berjualan makanan tapi untuk kebutuhan makan karyawan.
Hidup Tertatih
Karena kebutuhan hidup yang semakin sulit. Tahun 2005 Ulin memilih hijrah di Pekan Baru. Niat hati ingin merubah hidup, tapi sembilan tahun berjuang Ulin justru semakin sulit. Perjuangan Ulin bersama satu putranya yang masih balita harus berjuang menjadi buruh perkebunan.
Akhirnya tahun 2012 Ulin memilih pulang kampung. Belum berani pulang, tapi kerumah temannya di Kota Metro. Sempat kaget dikabarkan Ayahnya sudah meninggal, ternyata salah. Oleh pamannya kemudian Ulin dijemput keluarga Ayah-Ibunya ke rumah Jembat Batu. “Sebelum jualan sate, saya bikin kue, donat, kripik, Titip diwarung-warung,” katanya.
Modal awal, Ulin diberi Uang Rp100 ribu, untuk beli daging, agar mencoba jualan sate. “Jadi duit 100 ribu buat beli daging. Trus dibuat sate, dan di coma oleh kerabat dan keluarga. Dan semua sepakat enak cocok untuk jualan. Lalu tambahan uang paman Rp500. Total Rp600, buat modal,” ujar Ulin.
Menu yang ditawarkan saat itu tidak beda dengan warung sejenis lainnya yaitu sate, gule, tongseng, sate buntel dan tengkleng kuah kuning. “Ya awalnya warung biasa, kami juga merintis. Sewajarnya saja seperti warung olahan kambing lainnya, menunya juga sama,” terang Ulin.
Memulai bisnisnya dari nol, Ulin saat itu hanya sanggup membeli daging kambing kiloan. Warung pun hanya dikelola berdua bersama sang suami lantaran tidak mampu mempekerjakan karyawan. Warung Sate yang awalnya berpindah pindah di jalan dekat Pasar Jambat Batu itu cenderung cepat mengambil hati para pencinta kuliner kambing.
Kini warung Ulin sudah punya pelanggan setia. Ini karena keunggulan berupa cita rasa yang sangat kaya akan remah. Selain itu, keramahan dan murah hatinya Mba Ulin menjadikan pelanggan kangen untuk kembali makan di tempat itu.
“Belum bisa punya karyawan, saat itu warung sudah lumayan sore sudah habis. Saya ingat kenapa perlahan punya banyak pelanggan setia karena diajari bapak yang murah hati. Kalau ada yang minta tambah nasi, sambal, minum gitu nggak segan ngasih gratis. Jadi dari situ banyak pelanggan yang datang lagi dan datang lagi,” kenang Ulin.
Meski kini juga sudah bermunculan warung sate yang sama, tapi Ulin tidak khawatir dengan persaingan, karena rejeki sudah ada yang mengatur. “Apalagi saat ini juga harus terus mengangsur cicilan rumahnya. Sudah ada warung sate lain, tapi pelanggan mampu dengan mudah mengenali warung milik Ulin. Hingga akhirnya, Warung Sate Mba Ulin masih tetap bertahan.
Dalam pemilihan kambing yang berkualitas, Ulin memilih membeli Kambing unggulan dari peternak kambing. Kemudian memotong sendiri demi untuk membuat ekosistem ekonomi pedagang lainnya juga tetap berjalan dan menjaga kualitas bahan baku yang dipakai. (Red)