Malaysia (SL)- International Conference on Responsible Tourism and Hospitality 2022 atau ICRTH diadakan di Kuching Sarawak, Malaysia pada tanggal 01 – 03 September 2022. Tourism and SDGs adalah satu materi yang disampaikan di hari kedua secara langsung serta daring. 02 September 2022.
Diketahui, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas menyatakan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs) adalah pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, pembangunan yang menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, pembangunan yang menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang menjamin keadilan dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
TPB/SDGs merupakan komitmen global dan nasional dalam upaya untuk menyejahterakan masyarakat mencakup 17 tujuan yaitu (1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan; (3) Kehidupan Sehat dan Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender; (6) Air Bersih dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau; (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur.
(10) Berkurangnya Kesenjangan; (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim; (14) Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan; (16) Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Titing Kartika selaku moderator pada acara konferensi ini mengatakan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Yayasan Pariwisata Indonesia atau STIEPAR YAPARI sebagai salah satu PT (Perguruan Tinggi) swasta bidang Pariwisata di Indonesia berdiri tahun 1962, terus berkomitmen untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan, kata Titing Kartika, S.Pd., MM., MBA.Tourism melalui telepon pada awak media.
Titing menambahkan, sejauh ini dilakukan melalui berbagai kegiatan seperi seminar, konferensi baik nasional maupun internasional. Pada tahun 2022, STIEPAR YAPARI bersama Eurasia Japan menyelenggarakan International short course pariwisata yang melibatkan beberapa narasumber di Asia Tenggara dengan tema “Asian Community and Sustainable Tourism Development: Challenges for Tourism”.
Kemudian, kata Titing, dunia pendidikan tentunya harus mendukung Program Pariwisata berkelanjutan dunia karena akan berdampak bagi kehidupan manusia. Dampaknya tidak hanya secara lingkungan namun juga secara ekonomi serta sosial budaya.
“Kegiatan yang dilakukan sejauh ini selain seminar pariwisata berkelanjutan adalah dengan edukasi masyarakat melalui integrasi program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa”, katanya.
Dalam PKM ini para dosen melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat, misal sadar wisata, pemahaman sapta pesona, pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat dan bentuk pendampingan lain. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian program di LPPMJ (Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Penerbitan Jurnal) STIEPAR YAPARI, Titing menambahkan.
Titing menjelaskan, Sustainable Tourism Goals (SDGs) telah memberikan dampak baik bagi pariwisata Indonesia. “Seperti yang kita ketahui pariwisata terus menggeliat di tataran lokal dan global, khususnya. Bisa dibayangkan jika pengembangan sebuah destinasi tanpa perencanaan yang baik, maka ini akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia masa kini dan mendatang,” kata Titing penulis buku Literasi Pariwisata: dari Lokal hingga Global.
Seperti yang dinyatakan oleh UNWTO (2005) menyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhitungkan sepenuhnya dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan; menangani kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat tuan rumah, tambahnya.
Titing juga merinci hal strategis yang dapat dilakukan agar pariwisata bangkit setelah pandemi. Melakukan pembenahan di destinasi seoerti tata kelola, penyiapan SDM, pemahaman mistigasi bencana. “Dukungan pemerintah melalui kebijakan yang tepat dalam menghidupkan kembali para pelaku usaha pariwisata”, katanya.
Kerjasama lintas sektor misal ABGCM (Academician, Business, Government, Community dan Maedia) untuk bersama-sama membangun pariwisata sesuai dengan tupoksinya. “Pandemik telah merubah banyak hal termasuk perilaku wisatawan”, tegas Titing Dosen STIEPAR YAPARI dan Ketua Lembaga Penelitian,Pengabdian kepada Masyarakat dan Jurnal. (Heny HDL)