YOGYAKARTA (SL)- Stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan angka prevalensi (proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu) stunting nasional mencapai 27,67 persen pada tahun 2019.
Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Presiden RI Jokowi) telah menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Ketua Pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia pada 25 Januari 2021.
“Presiden Jokowi menunjuk langsung Kepala BKKBN, Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) menjadi Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting melalui Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting,” kata Rohdhiana Sumariati, S.Sos., M.Sc., selaku Koordinator Bidang Pelatihan dan Pengembangan (Korbid Latbang) Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di sela-sela kegiatan Lokakarya Pembelajaran Pemanfaatan Pangan Lokal Nusantara Guna Percepatan Penurunan Stunting, di Departemen Gizi dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) Jalan Farmako, Senolowo, Sekip Utara, Depok, Sleman, Yogyakarta, Kamis (9/12/2021).
Rohdhiana menuturkan, percepatan penurunan stunting merupakan bagian dari Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) BKKBN.
Untuk wilayah Jogja, Perwakilan BKKBN DIY kali ini bekerja sama dengan mitra kerja dari Departemen Gizi dan Kesehatan FKKMK UGM, Pelatihan ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan para Kader Bina Keluarga Balita (BKB), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Dharma Wanita untuk menciptakan dan mengkreasikan menu gizi yang seimbang untuk mencegah terjadinya Stunting bagi ibu hamil, balita (anak di bawah lima tahun), calon penganten, dan ibu menyusui sebagai makan pendamping air susu ibu (MPASI) dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat.
“Luaran dari kegiatan ini adalah 6 macam resep dalam bentuk foto dan video yang akan diupload di Kanal YouTube @LatbangBKKBNJogja. Dokumentasi ini akan dikontribusikan untuk mendukung Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang dilaksanakan di seluruh Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Resep-resep yang menggunakan bahan pangan lokal yang murah, banyak ditemukan di sekitar kita, dan mudah dipraktekkan ini setelah diaplikasikan harapannya bisa menurunkan angka stunting di DIY,” ujarnya.
Rohdhiana ingin para peserta yang hadir membantu menyebarluaskan informasi ini secara luas. Karena masih Pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) jumlah peserta tentunya sangat dibatasi mengingat protokol kesehatan (prokes) yang harus patuhi.
Sementara itu, Dr. Susetyowati, DCN., M.Kes. selaku Ketua Departemen Gizi dan Kesehatan FKKMK UGM menyampaikan, bahan pangan lokal sudah memiliki kandungan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil, ibu menyusui, dan bagi balita.
Saat ini yang perlu dilakukan adalah mengkreasikan bahan pangan lokal tersebut menjadi olahan yang lebih variatif dengan teknik pengolahan yang bervariasi agar menjadi lebih menarik.
“Misalnya tempe, kalo sebelumnya hanya digoreng, bisa dikreasikan menjadi nugget tempe. Demikian pula untuk tahu, kacang kedelai, kacang merah, lele, dan telur bisa divariasikan pengolahannya agar tidak membosankan,” ungkapnya.
Susetyowati menjelaskan, penelitian tentang bahan pangan lokal sudah banyak dilakukan oleh para peneliti ahli gizi. Hasilnya sudah teruji mampu memenuhi kebutuhan gizi makro seperti protein dan karbohidrat maupun kebutuhan gizi mikro seperti zat besi dan zinc guna pencegahan Stunting.
Dosen Departemen Gizi dan Kesehatan FKKMK UGM Yogyakarta Setyo Utami Wisnusanti, S.Gz., MPH. selaku pemateri memaparkan, menu berbasis bahan pangan lokal nusantara sudah mampu memenuhi asupan gizi yang dibutuhkan oleh balita.
Jangan terpengaruh oleh menu makanan dari luar (seperti fast food dan western food) yang booming dan ngetrend di media sosial. Mindset dan perilaku bahwa makanan bergizi itu harus mahal dan impor perlu diubah. “Yang penting berikan makanan dengan asupan gizi yang seimbang agar pertumbuhan anak bisa optimal dan tidak stunting,” imbuhnya. (/Red)